Dalam membela studi sejarah ihwal daerah yang lain

Este es un ensayo que escribí este trimestre para el curso de bahasa Indonesia, y trata de la problemática de promover los estudios de Historia especializados en regiones fuera de América Latina. Se aprecian correcciones y observaciones (tanto fácticas como gramaticales) que se incorporarán a la traducción al castellano.

Pertama, saya harus menjelaskan saya tidak mempunyai keberatan studi sejarah Peru. Sejarah Peru penting sekali, dan ada banyak topik yang harus dipelajari. Juga penting sekali bahwa topik itu dipelajari oleh sejarawan yang berasal dari Peru. Universitas di Peru harus meneruskan kajian sejarah itu, baik karena sejarah nasional maupun karena universitas itu baik sekali untuk studi itu. Ada mahasiswa yang termotivasi dan bisa berbicara dalam bahasa Spanyol, dan ada akses pada sumber utama. Tentu saja, walaupun sejarawan asing dipersilahkan juga, orang Peru harus ikut di studi sejarah mereka.

Namun, kaum sejarawan Peru mempunyai masalah yang tidak dibicarakan: tidak pernah ada sejarawan Peru yang mengkhususkan diri pada sejarah daerah yang lain. Beberapa hari yang lalu, teman saya mengatakan “Jadi, tidak ada banyak sejarawan Asia Tenggara di Peru, ya?” Saya menjawab “Bukan ada banyak sejarawan Asia Tenggara, melainkan tidak ada sejarawan Asia Tenggara.” Dan ada situasi yang sama dengan hampir semua daerah yang lain: Afrika, Eropa Timur, Asia Tengah, Cina, Jepang, dll. Akibatnya, untuk mengetahui sejarah daerah yang lain, kami tergantung pada buku yang ditulis oleh sejarawan yang berasal dari tempat yang lain, biasanya Amerika Serikat atau Eropa. Dan mahasiswa kami tidak mempunyai akses ke ahli yang benar-benar mengkhususkan diri pada sejarah daerah yang lain. Kami buta, dan situasi itu yang membuat kami terbelakang. Situasi ini harus diubah.

Mengapa ada situasi ini? Ada lingkaran setan. Biasanya, universitas di Peru hanya mempekerjakan sejarawan yang tinggal di Peru. Tahun yang lalu, satu universitas baru mempekerjakan sejarawan Spanyol untuk mengajarkan kelas tentang sejarah Eropa. Tetapi situasi itu luar biasa. Biasanya, sejarawan yang dipekerjakan itu sudah belajar di Peru, dan hanya dengan dosen yang mengkhususkan diri pada sejarah Peru. Akibatnya, universitas Peru hanya bisa menghasilkan sejarawan yang lain yang mengkhususkan diri sejarah Peru juga. Tidak ada jalan keluar.

Tentu saja, ada kelas tentang sejarah yang lain. Tetapi, kelas itu diajarkan oleh dosen yang tidak mengkhususkan diri pada daerah itu. Misalnya, saya belajar kelas tentang sejarah Amerika Serikat yang diajarkan oleh dosen yang berasal dari negeri itu. Tetapi, walaupun dia orang Amerika Serikat, keahlian dia sebenarnya dalam bidang sejarah gereja Katolik di Peru. Dosen itu bagus sekali, dan dia juga mengajari saya kelas sejarah dunia. Ada masalah yang sama di kelas yang lain. Kelas tentang Roma diajarkan oleh dosen yang mengkhususkan diri pada sejarah orang Italia yang pindah ke Peru, kelas tentang periode abad pertengahan diajarkan oleh dosen yang mengkhususkan diri pada sejarah kaum bangsawan di Peru selama periode kolonial. Mungkin mahasiswa bisa mengambil untuk kelas yang lebih umum, selama tahun yang pertama di universitas, tetapi untuk kelas yang lebih tinggi, sedikit sedih, saya pikir. Kalau kelas itu tidak diajarkan oleh ahli pada tema itu, tidak bisa menghasilkan mahasiswa ahli pada tema itu juga. Sedikit banyak, kami menipu mahasiswa itu. Mereka pikir bahwa mereka akan mengambil kelas dengan ahli periode abad pertengahan, tetapi tidak. Lingkaran setan tetap utuh.

Ada masalah yang lain: kurikulum. Di banyak universitas di Peru, kurikulumnya tertutup. Artinya, ada daftar spesifik yang menyatakan kelas yang tersedia, dan tidak bisa menawarkan kelas yang tidak ada di daftar itu. Ada universitas di Lima seperti Universitas Federico Villarreal yang tidak mempunyai kemungkinan untuk kelas yang bukan tentang “sejarah dunia”. Universitas itu tidak boleh mengajarkan kelas tentang Asia atau Afrika. Situasi itu disebabkan oleh situasi dosen. Kalau kami tahu bahwa tidak ada dosen yang bisa benar-benar mengajarkan kelas tentang benua atau daerah yang lain, mengapa menawarkan kelas itu? Tetapi, kalau tidak ada kelas itu, bagaimana universitas itu bisa mempekerjakan dosen yang bisa mengajarkan kelas itu? Sekali lagi, kami menghadapi lingkaran setan.

Jalan keluarnya tampak sederhana: mempekerjakan dosen asing, dan mengubah kurikulum. Namun demikian, pelaksanaannya itu juga susah. Dosen Spanyol yang baru saja dipekerjakan luar biasa: Spanyol ada dalam krisis, jadi mungkin krisis itu mendorong dia mengajukan diri pada posisi itu. Biasanya, untuk mempekerjakan dosen seperti itu, universitas akan harus membayar gaji yang lebih tinggi daripada dosen Peru. Dosen Peru akan bertanya mengapa universitas mempekerjakan dosen asing untuk mengajarkan kelas sejarah dunia, kalau mereka (dosen Peru) juga bisa melakukan hal itu, dan mengapa mereka dibayar dengan gaji yang lebih tinggi daripada dosen Peru. Situasi itu rumit.

Sejarawan Peru sudah cukup belajar dalam sehingga mereka bisa berpikir bahwa pengetahuan mereka tentang sejarah dunia gamadalamnya dengan sejarawan asing. Tetapi, kelas sejarah dunia yang ditawarkan di universitas Peru biasanya memfokuskan diri pada Eropa. Sejarawan yang mengkhususkan diri pada sejarah Eropa akan tahu lebih banyak tentang tema itu daripada sejarawan Peru yang sebenarnya sudah mengkhususkan diri pada sejarah Peru. Sejarawan Peru itu bisa mengajarkan kelas yang lebih umum. Bagaimapun juga, sebenarnya tidak ada sejarawan yang mengkhususkan diri pada ‘sejarah dunia’. Semua sejarawan hanya mengkhususkan diri pada satu atau dua daerah. Tetapi kalau sejarawan yang mengkhususkan diri pada sejarah Eropa tidak dipekerjakan dan hal itu disebabkan oleh oposisi dosen Peru, ahli itu tidak bisa menawarkan kelas yang berfokus pada Eropa. Dan kalau hal itu tidak bisa dilakukan, bagaimana kami bisa menghasilkan sejarawan baru yang mengkhususkan diri pada sejarah Eropa?

Faktanya, sebagian besar mahasiswa Peru yang pergi ke negara yang lain untuk belajar tentang sejarah Peru atau Amerika Latin. Mengapa? Karena mereka sudah tahu tentang tema itu, dan mereka merasa lebih enak dengan sejarah itu. Tetapi mungkin ada kemungkinan yang lain: mahasiswa Peru bisa memandang S1 hanya sebagai tahap pertama, dan pergi ke negara yang lain untuk mengkhususkan diri pada sejarah di daerah yang lain pada S2 dan S3.

Namun, juga ada masalah. Kalau mahasiswa itu hanya bisa belajar sejarah Peru, bagaimana mereka akan menulis writing sample yang orisinil tentang daerah yang lain? Kalau mereka tidak bisa melakukan itu, bagaimana mereka akan diterima ke program S2 atau S3 yang mengkhususkan diri pada daerah yang berbeda dari Peru? Juga, mereka tahu bahwa ada kelas sejarah Peru dan Amerika Latin yang ditawarkan di Peru, dan mereka berharap mereka akan bisa mengajarkan kelas itu. Selain kelas itu, tidak ada kelas tentang Afrika, Asia, atau daerah yang berbeda. Mengapa belajar sejarah itu, kalau mungkin tidak akan ada kelas untuk mereka? Lingkaran setan berlanjut.

Selanjutnya, bahkan jika satu mahasiswa belajar sejarah yang lain, apa yang akan dilakukan oleh universitas di Peru dengan dia? Universitas itu tidak bisa mempekerjakan dia penuh waktu, karena tidak ada cukup kelas untuk dia. Kalau dia menjadi dosen paruh waktu, apa universitas itu akan mengubah kurikulum dan menawarkan kelas tentang daerah itu? Susah, karena dosen itu bisa meninggalkan universitas itu kapan saja. Juga, kecuali kalau universitas itu mau mempekerjakan kumpulan sejarawan daerah yang lain, apa yang bisa dilakukan dengan hanya satu sejarawan seperti itu?

Bagi saya, seharusnya harus ada generasi yang pertama yang pergi ke luar negeri untuk mempelajari daerah yang lain walaupun ada banyak bahaya dan masalah. Mungkin mereka tidak akan dipekerjakan oleh universitas. Hampir pasti, mereka tidak bisa bankak meneliti waktu mereka tinggal di Peru. Tetapi, kalau mereka melakukan itu, setelah mungkin sepuluh tahun, akan ada kumpulan sejarawan Peru yang mengkhususkan diri pada daerah yang lain. Mungkin mereka bisa mulai mengajari generasi yang baru kelas yang memfokuskan daerah itu dengan benar. Masyarakat sejarah di Peru akan menjadi lebih utuh.

Mungkin.

Puntuación: 5 / Votos: 1

Jorge Bayona

Jorge Bayona es candidato doctoral en Historia en la Universidad de Washington (Seattle), Magíster en Historia por la misma universidad y Bachiller en Humanidades con mención en Historia por la Pontificia Universidad Católica del Perú (Lima). Ha sido docente en la Universidad de Washington y la Universidad Peruana de Ciencias Aplicadas. Se encuentra actualmente en Manila, realizando investigación de archivo para su tesis doctoral. Sus áreas de especialización son el Sudeste Asiático, América Latina y el mundo del Pacífico.

Deja un comentario

Tu dirección de correo electrónico no será publicada. Los campos obligatorios están marcados con *


*