Perselisihan wilayah di Asia Tenggara dan Amerika Selatan

Di Amerika Selatan ada fenomena yang menarik: setiap negara mempunyai wacana retorik tentang konsep kehilangan wilayah. Bagaimana bisa benar bahwa Ecuador yang merebut wilayah Peru tetap Peru juga merebut wilayah Ecuador? Kita bisa melihat pola pikir yang sama di hampir setiap negara terhadap setiap negara tetangganya. Sebenarnya, kebanyakan wilayah itu adalah wilayah asal yang tidak benar-benar dikuasai oleh negara-negara tersebut. Waktu mereka merdeka, setiap negara mencoba menduduki wilayah sebanyak mungkin, dan memakai pembenaran sejarah kolonial misalnya “Berkenaan dengan sejarah bahwa dulunya wilayah tersebut diminta oleh kerajaan Spanyol, sekarang orang dan wilayah asli tersebut kami kuasai”. Tetapi pendapat suatu negara tentang berapa banyak wilayah yang sudah dipunyai oleh negara tersebut bertentangan dengan pendapat tetangganya. Sehubungan dengan situasi itu, banyak negara memperebutkan wilayah itu, misalnya Ecuador, Colombia, Peru, Bolivia dan Brazil di Amazonia, atau Chile dan Argentina di Patagonia.

Saya menemukan pemikiran serupa yang bersangkutan dengan wilayah di Asia Tenggara: karena daerah Islam di pulau Mindanao dan kepulauan Joló diminta oleh kerajaan Spanyol (walaupun wilayah tersebut tidak pernah mereka duduki) Filipina akan mau juga merebut wilayah itu dari penduduk aslinya. Selanjutnya, Filipina membuktikan ide bahwa karena dulu daerah Sabah dikuasai oleh kesultanan Sulu, dan Sulu sekarang diduduki oleh Filipina, Filipina seharusnya juga berhak atas Sabah. Begitu juga, Indonesia juga berpikir bahwa karena Papua diminta oleh Belanda, mereka layak untuk mewarisi daerah itu, walaupun tidak ada banyak hubungan di antara orang Papua dan daerah lain di Indonesia.

Saya menamai ide ini “nasib diwarisi”, karena walaupun masyarakat ini tidak pernah menduduki daerah dan rakyat itu, mereka berpikir bahwa mereka sudah mewarisi wilayah itu dari periode kolonial, dan nasibnya sudah ditakdirkan untuk menduduki wilayah tersebut. Dalam arti ini, republik ini–di Asia Tenggara atau Amerika Selatan–yaitu meneruskan proyek wilayah Spanyol atau Belanda. Dalam topik yang berhubungan dengan wilayah, republik tersebut bertindak sebagai kerajaan kolonial.

Saya pikir bahwa topik ini menarik. Tetapi pada kuartal ini, saya mau menjelajahi masalah wilayah di daerah yang lain: Asia Tenggara daratan, bukan maritim. Di kelas “Tema-tema khusus di Asia Tenggara” kami akan membaca buku yang terkenal: Siam mapped: a history of the geo-body of a nation oleh Thongchai Winichakul. Saya akan membaca juga buku yang baru yang berjudul The lost territories: Thailand’s history of national humiliation oleh Shane Strate. Saya pikir bahwa kasus ini bisa menjadi menarik, karena walaupun Thailand tidak pernah secara resmi diduduki oleh kerajaan Eropa (sehingga tidak bisa memakai istilah “nasib diwarisi”), negara tersebut bisa menarik sebagai perbandingan dengan negara di Amerika Selatan. Walaupun bukan merupakan negara di Asia Tenggara maritim, Thailand disamakan dengan negara di Amerika Selatan karena baik Thailand maupun negara Amerika Selatan mempunyai perbatasan yang panjang dengan negara tetangganya. Jadi, walaupun Thailand tidak memakai istilah “nasib diwarisi” karena mereka tidak mewarisi wilayahnya dari kerajaan Eropa, mungkin negara tersebut bisa bertindak sebagai kerajaan kolonial waktu negara tersebut berpikir tentang wilayah mereka.

Juga, Thailand tampaknya mempunyai ide yang berhubungan dengan “wilayah kalah” seperti negara Amerika Selatan. “Thailand seharusnya lebih besar, tetapi negara tetangga kami–orang imperialis–merebut wilayah kami.” Kalau kita mencoba mengganti “Thailand” dengan negara manapun Amerika Selatan dan “orang imperialis” dengan “orang jahat”, maka setiap orang Amerika Selatan bisa mengatakan hal yang sama. Baik Thailand maupun negara-negara di Amerika Selatan mempunyai perbatasan yang panjang di daerah yang terpencil, dan dihuni oleh orang asli. Mungkin juga kedua pembahasan tersebut mempunyai kelompok yang mempunyai ide irredentis, yaitu, bahwa ada wilayahnya direbut oleh negara tetangga.

Thongchai Winichakul mau menulis sejarah tentang yang dia namai “geo-body” Thailand. Menurutnya, ada banyak masalah di sejarah resmi Thailand dan peta negara tersebut. Sebelum periode imperialisme di Asia Tenggara, tidak ada peta modern di daerah ini. Hanya ada peta simbolis atau kosmologis. Ada perbedaan yang lain juga: tidak sesuai dengan pengertian kita tentang kedaulatan pada hari ini, ada banyak perbedaan pada waktu tersebut. Kita berpikir bahwa setiap daerah bisa dikuasai oleh satu kedaulatan saja. Desa ini dikuasai oleh raja Thailand saja, dan bukan oleh raja Burma atau Vietnam. Tetapi, pada periode tersebut, tidak. Ada banyak kerajaan yang kecil atau desa yang mengirimkan upeti ke lebih dari satu tuan penguasa. Karena itu, desa yang tersebut masih swatantra dan mempunyai kedaulatannya, tetapi mereka dilindungi oleh beberapa tuan penguasa, misalnya Thailand dan Vietnam (seperti Kamboja dan banyak desa di Laos) atau Thailand dan Burma, atau Thailand dan Inggeris di selatan (Patani, Kedah, dll.). Siapa yang menguasai daerah itu? Pertanyaan itu sebenarnya berakar dari pola pikir Barat, bukan pola pikir Asia Tenggara. Dalam pola pikir Asia Tenggara, boleh ada daerah di mana tidak ada kedaulatan yang eksklusif. Situasi ini akan berubah dengan kedatangan imperialisme Barat.

Ada perbedaan yang penting di antara imperialisme Spanyol dan Belanda di Filipina dan Indonesia pada abad 16 sampai 18 dan imperialisme Inggeris dan Perancis pada abad 19. Walaupun Spanyol dan Belanda mempunyai teknologi peta, mereka menduduki daerah pulau. Hasil dari, sebagian besar, mereka tidak usah menggambar perbatasan di antara mereka dan kerajaan yang lain. Ada perbatasan yang “alami”: laut di antara pulau-pulau tersebut. Namun, ketika orang Inggeris mulai menaklukkan Burma dan orang Perancis mulai menaklukkan Vietnam, ada masalah: kerajaan tersebut percaya bahwa mereka harus menggambar perbatasan darat dengan Thailand. Ada banyak masalah dengan situasi tersebut. Menurut pola pikir Thailand, perbatasan yang tepat diingin oleh musuh saja, jadi permintaan Inggeris dan Perancis sebenarnya perbuatan agresif. Bagi pola pikir Thailand, kerajaan yang ramah daripada membatasi perbatasannya melainkan mempunyai daerah yang “di antara” dan tidak dikuasai oleh salah satu.

Akhirnya, Thailand mengerti bahwa mereka harus memakai teknologi peta juga, walaupun teknologi tersebut tidak bisa mewakili banyak gradasi kedaulatan yang ada di Asia Tenggara. Di teknologi peta Barat, setiap daerah bisa dikuasai oleh satu negara saja. Thailand harus mengubah hubungan upeti ke hubungan subordinasi langsung. Tentu saja, situasi ini tidak cocok bagi raja yang kecil di daerah itu, dan dia benci pada campur tangan tersebut. Namun, Bangkok mengirimkan pejabat dan surveyor geografis ke daerah tersebut, supaya negara tersebut bisa meminta daerah itu sebagai daerah Thai. Tentu saja, Perancis dan Inggeris melakukan tindakan yang sama di Burma, Malaya, dan Indocina. Berkenaan dengan tindakan Thai, negara tersebut sebenarnya mulai bertindak sebagai negara imperialis juga. Bahkan, sesuai dengan tulisan Tamara Loos, waktu kesultanan Patani mau menolak campur tangan Bangkok, Thai melakukan tindakan yang sama yang dilakukan oleh Perancis melawan Thai. Thai mengirimkan kapal perang ke Patani dan memaksa kesultanan tersebut menerima kedaulatan Thai.

Setelah Thai bisa membangun “geo-body”nya, sejarawan Thai juga membangun geo-body historis: mereka menggambarkan peta dengan pola pikir “modern”, dan di peta tersebut, mereka bisa meminta banyak daerah yang sebenarnya mempunyai hubungan upeti saja dengan Bangkok. Tentu saja, peta ini membuka kemungkinan sejarah “kerugian teritorial”, padahal daerah itu tidak pernah diperintah dengan langsung oleh Bangkok. Thongchai menekankan ide bahwa daripada kita memfokuskan negara yang masih ada saja, kita seharusnya mempertimbangkan setiap pengalaman.

Sekarang, saya berpikir bahwa konsep “geo-body” bisa dipakai di Amerika Selatan juga. Walaupun negara-negara tersebut memakai peta Barat dari saat mereka “dilahirkan” pada abad 16 selama penaklukan Spanyol, kita bisa melihat bagaimana republik tersebut memakai konsep Barat untuk membangun “geo-body”nya. Seperti orang Thai, negara-negara tersebut menggambarkan peta dan setelahnya mencoba membangun kebangsaan di dalam lingkup perbatasan tersebut. Waktu mereka melakukan tindakan tersebut, mereka tidak peduli tentang pola pikir orang asli di daerah itu. Hanya pola pikir barat dari Lima, Santiago, Quito atau Buenos Aires yang dipaksakan. Setiap negara menggambarkan peta yang menolak peta negara yang lain. Peta tersebut menjadi senjata yang penting untuk siap nasionalisme dan pertahanan “integritas teritorial”. Seperti Thailand, negara seperti Peru mempunyai wacana retorik kerugian teritorial. Dulu, kolega saya di Peru, yang juga dosen sejarah, bertanya di ujiannya beberapa km2 Peru sudah kalah daripada setiap negara yang tetangga. Gila sekali! Di contoh seperti ini, kami bisa melihat bagaimana istilah “wilayah hilang” sangat kuasa di negara seperti Peru.

Puntuación: 0 / Votos: 0

Jorge Bayona

Jorge Bayona es candidato doctoral en Historia en la Universidad de Washington (Seattle), Magíster en Historia por la misma universidad y Bachiller en Humanidades con mención en Historia por la Pontificia Universidad Católica del Perú (Lima). Actualmente es docente en la Universidad del Pacífico y ha sido docente en la Universidad de Washington y la Universidad Peruana de Ciencias Aplicadas. Sus áreas de especialización son el Sudeste Asiático, América Latina y el mundo del Pacífico.

Deja un comentario

Tu dirección de correo electrónico no será publicada. Los campos obligatorios están marcados con *